TIMES GRESIK, GRESIK – Sebanyak 64 seniman lokal dan mancanegara ikut terlibat dalam pameran seni rupa yang digelar Biennale Jatim digelar di Pudak Galeri Kabupaten Gresik pada 24 Agustus hingga 20 September 2025.
Seniman muda asal Gresik, Fatwa Amalia, terpilih sebagai salah satu partisipan utama, bersanding dengan sejumlah nama besar dari dalam dan luar negeri.
Sejumlah seniman mancanegara turut ambil bagian, antara lain Lisette Ross (Amsterdam), Satsuki Imai (Tokyo), Ryuichi Sakazaki (Fukuoka), Terae Keiichiro (Seoul), Artcom (Kazakhstan), Dam-Dam Collective (Amsterdam), dan Yawen Fu (Taiwan/Amsterdam).
Berbagai macam karya yang telah melalui kurasi dipamerkan secara mengesankan. Para seniman mengangkat kegelisahan dan kondisi pesisir yang kini mulai rusak.
Sejumlah karya unik diantaranya karya instalasi ribuan kaleng bekas minuman dan makanan sepanjang 12 meter yang digantung hingga membentuk layaknya ombak. Hal ini sebagai kritik atas budaya konsumsi sekaligus pencemaran laut.
Salah satu kurator Biennale Jatim Ismal Muntaha mengatakan Gresik menjadi salah satu daerah yang menjadi tuan rumah pameran dengan mengusung tema 'Hantu Laut'.
"Gresik yang dikenal sebagai bandar atau pelabuhan terkenal dan memiliki sejarah budaya berusia tua," katanya, pada Jumat (29/8/2025).
Menurut Ismal, sejarah dna budaya di Gresik itu tergambar dengan adanya makam tokoh seperti Syekh Maulana Malik Ibrahim atau biasa disebut Sunan Gresik, yang konon sebagai wali songo yang datang pertama kali di Gresik.
"Yang keduanya adalah memilih Gresik karena hari ini, Gresik mengalami situasi industrialisasi yang cukup juga besar. Jadi kayak keterkaitan antara sejarah yang begitu mengakar, kebudayaan begitu kuat tapi juga waktu di sini juga sebagai kota industri," jelasnya.
Sementara itu dalam pembukaan pameran, hadir Direktur Jenderal Pengembangan Pemanfaatan Pembinaan Kementerian Kebudayaan RI Ahmad Mahendra, Dinas Pariwisata Jawa Timur Evy dan Bupati Fandi Akhmad Yani.
Bupati Yani mengapresiasi terselenggaranya Biennale di wilayahnya. Ia menilai, kegiatan ini tidak hanya memperkaya ruang ekspresi seni, tetapi juga memperkuat identitas budaya daerah.
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menggagas acara ini. Karya-karya yang ditampilkan sungguh luar biasa. Gresik kini tidak hanya dikenal sebagai kota industri dan sejarah, tetapi juga sebagai tanah kelahiran seniman yang mampu tampil di panggung global,” ujar Bupati Gresik.
Bupati Yani menambahkan, seni dan budaya merupakan kekuatan lunak yang dapat mengangkat citra daerah sekaligus membangun jembatan antar peradaban.
“Gresik adalah kota kecil yang kaya warisan budaya. Sejak dahulu menjadi pintu perdagangan internasional. Saya berharap para seniman mampu menangkap nilai-nilai ini dan mentransformasikannya dalam karya. Semoga Gresik terus dikenang sebagai kota yang penuh peradaban,” tegasnya. (*)
Pewarta | : Akmalul Azmi |
Editor | : Ferry Agusta Satrio |