Mengenal Malam Selawe dan Pasar Bandeng, Tradisi Ramadan Khas Gresik
Kontes Bandeng Kawak di Gresik, dihadiri Gubernur Khofifah Indar Parawansa beberapa tahun yang lalu. (Foto: TIMES Indonesia).

Mengenal Malam Selawe dan Pasar Bandeng, Tradisi Ramadan Khas Gresik

Malam Selawe dan Pasar Bandeng menjadi dua tradisi Ramadan khas Gresik yang telah berlangsung sejak masa Sunan Giri dan kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

TIMES Gresik,Rabu 18 Maret 2026, 06:41 WIB
221
A
Akmalul Azmi

GRESIKMenjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat Kabupaten Gresik memiliki sejumlah tradisi khas yang telah berlangsung turun-temurun sejak masa Sunan Giri. Dua tradisi yang paling dikenal adalah Malam Selawe dan Pasar Bandeng.

Menariknya, kedua tradisi tersebut kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia bersama tiga tradisi lainnya dari Gresik, yakni Kupat Keteg, Rebo Wekasan, dan Pencak Macan.

Berikut dua tradisi khas Gresik yang selalu mewarnai suasana Ramadan menjelang Lebaran.

1. Malam Selawe

Malam Selawe merupakan tradisi yang digelar setiap malam ke-25 Ramadan. Tradisi ini identik dengan kegiatan ziarah dan ibadah di kawasan makam Sunan Giri yang berada di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.

Pada malam tersebut, ribuan warga dari berbagai daerah datang untuk berziarah, berdoa, serta mengisi malam dengan berbagai kegiatan ibadah dengan harapan memperoleh keberkahan malam Lailatul Qadar.

Kawasan Giri biasanya dipadati peziarah sekaligus pedagang yang menjajakan berbagai makanan serta pernak-pernik khas Ramadan. Sepanjang jalur dari Kantor Kecamatan Kebomas hingga area makam Sunan Giri, deretan pedagang dan pelaku UMKM menawarkan aneka kuliner hingga perlengkapan Lebaran.

Tradisi Malam Selawe diyakini telah berlangsung sejak masa dakwah Sunan Giri dan hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat.

2. Pasar Bandeng

Selain Malam Selawe, masyarakat Gresik juga memiliki tradisi Pasar Bandeng yang biasanya digelar pada malam-malam terakhir Ramadan menjelang Idulfitri.

Tradisi ini umumnya berlangsung selama tiga hari, yakni pada tanggal 27, 28, dan 29 Ramadan. Pada momen tersebut, para petambak dan pedagang menjual ikan bandeng dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran.

Pasar Bandeng telah ada sejak masa Sunan Giri sebagai salah satu upaya menggerakkan perekonomian masyarakat pesisir Gresik.

Dalam tradisi ini, berbagai ukuran bandeng dijual, mulai dari ukuran kecil hingga ukuran besar yang bahkan bisa mencapai sebesar bayi. Ikan bandeng sendiri menjadi salah satu hidangan khas yang hampir selalu disajikan masyarakat Gresik saat Lebaran.

Pemerintah Kabupaten Gresik juga turut melestarikan tradisi ini dengan menggelar kontes Bandeng Kawak, yaitu lomba bandeng berukuran besar. Dalam beberapa kesempatan, juga digelar lelang bandeng terbesar yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Hingga kini, Malam Selawe dan Pasar Bandeng tidak hanya menjadi tradisi keagamaan dan budaya masyarakat Gresik, tetapi juga berkembang menjadi daya tarik wisata tahunan yang selalu dinantikan pada akhir Ramadan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Akmalul Azmi
|
Editor:Wahyu Nurdiyanto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Gresik, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.