Nostalgia di Pudak Cap Kuda Gresik, Diburu Karena Rasa Otentik Terjaga Sejak 1950
Suharsih (kiri) saat melayani pembeli di Toko Pudak Cap Kuda (Foto: Akmal/TIMES Indonesia).

Nostalgia di Pudak Cap Kuda Gresik, Diburu Karena Rasa Otentik Terjaga Sejak 1950

Konsistensi menjadi kunci utama eksistensi Pudak Cap Kuda hingga kini. Resep warisan keluarga tetap dipertahankan.

TIMES Gresik,Minggu 12 April 2026, 19:00 WIB
2.2K
A
Akmalul Azmi

GRESIKDi tengah gempuran kuliner modern, pudak legendaris Cap Kuda 'Nyonya Tjioe' di Jalan AKS Tubun, Pulopancikan, Kabupaten Gresik, tetap mampu bertahan.

Rahasianya? Cita rasa yang tak berubah sejak 1950. Bukan sekadar jajanan, pudak ini menjual nostalgia rasa otentik.

Salah satu pelanggan, Ricke Mayumi, mengaku datang ke Pudak Cap Kuda untuk bernostalgia. Dia menyebut, kunjungannya bukan sekadar membeli oleh-oleh, tetapi juga mengulang kenangan yang pernah ia rasakan.

“Rasanya tetap seperti dulu, saat kecil pertama mencicipi Pudak ini, kesini membeli rasa, dan memang otentik,” ujar perempuan yang juga menjadi Anggota DPRD Gresik, Minggu (12/4/2026).

Suharsih, generasi ketiga pemilik usaha, menuturkan bahwa konsistensi menjadi kunci utama eksistensi Pudak Cap Kuda hingga kini. Resep warisan keluarga tetap dipertahankan, mulai dari takaran bahan hingga proses pembuatan.

“Sejak dulu rasanya tidak pernah berubah. Semua ditakar sesuai resep zaman dulu, itu yang kami jaga,” ujarnya.

Dia menyebut, usaha ini dirintis oleh sang nenek dan kini telah memasuki generasi ketiga. Bahkan, Pudak Cap Kuda disebut sebagai salah satu pelopor pudak pertama di Gresik.

Tak hanya soal rasa, filosofi di balik nama 'Cap Kuda' juga memiliki makna tersendiri. Terinspirasi dari shio kuda, diharapkan usaha ini terus berlari tanpa lelah dan tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Berbeda dengan usaha lain yang mengejar pasar, Pudak Cap Kuda memilih berjalan lumintu atau apa adanya. Namun justru dari kesederhanaan itu, pelanggan setia terus berdatangan.

“Yang datang kebanyakan ingin bernostalgia. Banyak yang sudah sepuh, datang untuk membeli rasa yang sama seperti dulu,” ungkapnya.

Proses pembuatan pudak pun masih mempertahankan cara tradisional. Untuk pudak biasa, dibutuhkan waktu sekitar tiga jam, sementara varian jubung bisa mencapai lima jam. Dahulu, kemasan bahkan dijahit secara manual dengan tangan.

Dalam sehari, produksi pudak mencapai sekitar 500 biji. Sementara saat akhir pekan, jumlahnya bisa melonjak hingga hampir seribu buah. "Pudak dijual per paket, yakni 10 biji seharga Rp60 ribu, sedangkan jubung satu boks dibanderol Rp40 ribu," ujarnya.

Menariknya, pudak ini juga pernah menjadi langganan kalangan pejabat di era Orde Baru. Suharsih mengungkapkan, sejumlah nama besar seperti keluarga Presiden Soeharto hingga menteri kala itu pernah membeli pudak Cap Kuda.

“Dulu Bu Tutut dan Pak Harmoko sering beli, tapi tidak datang langsung. Biasanya ajudannya yang datang, bahkan ada perwira yang membelikan untuk atasannya. Mereka mencari rasa yang otentik,” kenangnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Akmalul Azmi
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Gresik, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.