Dedikasi Timo Mengajar di Pulau Gili Gresik, Pulau Kecil di Tengah Bawean
Timo, guru UPT SDN 352 Gresik di Pulau Gili, Bawean, tempuh perahu 30 menit setiap pekan. Listrik terbatas, genset bergantian. Telah mengabdi 23 tahun demi pendidikan anak-anak.
GRESIK – Dedikasi seorang guru tak selalu hadir dengan fasilitas memadai. Hal itu tercermin dari perjuangan Timo, guru UPT SDN 352 Gresik di Pulau Gili, Kecamatan Sangkapura Bawean.
Untuk sampai ke tempat tugasnya, ia harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari rumah menuju pelabuhan, lalu dilanjutkan menyeberang menggunakan perahu selama 30 menit ke Pulau Gili.
Ombak laut seakan tak pernah menjadi penghalang bagi Timo dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Perjalanan itu bukan tanpa risiko, terlebih saat cuaca kurang bersahabat.
Namun, demi memastikan para siswanya tetap mendapatkan hak pendidikan, Timo tetap berangkat, berjuang demi menularkan ilmu.
"Medan yang sulit tak menyurutkan niat untuk mengajar siswa-siswi, setelah dari pelabuhan naik perahu untuk sampai ke sekolah. Jadi Pullau Gili itu, pulau di tengah Pulau Bawean," katanya kepada TIMES Indonesia pada Sabtu (2/5/2026).

Sejak awal penugasan, Timo telah mengabdi sebagai guru kelas. Dia sudah lama mengabdi di Pulau Gili, sudah hampir 23 tahun.
Warga Desa Sungairujing Sangkapura ini ikhlas menjalani rutinitas mengajar di tengah kondisi geografis yang tidak mudah. "Jangan bandingkan dengan guru lain di daratan, tentu beda," ungkapnya.
Meski begitu, di balik semangatnya, ada pengorbanan besar yang harus dijalani. Timo harus meninggalkan keluarga demi menjalankan tugasnya. Dia juga harus hidup mandiri, termasuk memasak sendiri.
“Minggu sore balik tugas, dan pulang ke rumah Sabtu, satu pekan sekali pulang kerja rumah. Jika berangkat Senin pasti terlambat karena menyesuaikan jadwal kapal, sehari-hari ya saya di pulau ini, masak atau mencuci dilakukan sendiri," ujarnya.
Proses Belajar Terbatas
Jangan bayangkan siswa di Gili bisa menikmati listrik 24 jam seperti di daratan Gresik. Meski di pulau tersebut sudah ada PLTS, namun belum mencukupi kebutuhan listrik semua warga, termasuk untuk sarana dan prasarana sekolah.
“Total siswa di sekolah ini 101 anak. Untuk alat-alat sekolah yang berbasis elektronik, praktis belum bisa digunakan maksimal karena keterbatasan listrik,” ungkapnya.
Meski jaringan telekomunikasi relatif aman, kebutuhan listrik untuk kegiatan belajar mengajar masih menjadi kendala. Selama ini, pihak sekolah juga mengandalkan genset sebagai alternatif sumber energi.
Namun penggunaan genset pun tidak bisa dilakukan terus-menerus karena konsumsi bahan bakar yang cukup besar.
“Supaya tidak boros, penggunaan genset harus diatur. Jadi saya kondisikan, kelas ini dulu, nanti baru bergantian kelas yang lain, seperti tes TKA kemarin, siswa-siswi memakai genset, namun Alhamdulillah semuanya lancar,” jelasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

